Apa yang Anda rasakan ketika berpuasa seharian dan hanya berbuka puasa dengan segelas air putih dan semangkuk kolak?
Juga apakah yang Anda rasakan ketika sepeda motor Anda kempes bannya kena paku di tengah jalan dan menemukan bengkel tambal ban setelah menuntun motor selama 2 kilometer?
Saya yakin cukup melegakan. Jika Anda punya waktu, bandingkanlah dengan menyempatkan diri untuk makan makanan yang menurut Anda paling enak dan di tempat yang menurut Anda paling indah di saat tidak sedang berpuasa atau memanggil pesuruh di rumah dan memintanya menuntun hingga menemukan bengkel tambal ban pada kasus diatas. Tentu keduanya sama-sama memberikan kelegaan. Adakah Anda menemukan perbedaan diantara keduanya? Jawabannya bisa menemukan, bisa juga tidak.
Kebahagiaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir dan batin. Kebahagiaan lahir karena proses lahiriah (lidah merasakan makanan atau menemukan bengkel tambal ban) dan batiniah (merasakan kelegaan). Memastikan kebahagiaan lahiriah relatif mudah karena selama indera kita tidak mengalami gangguan maka kita akan dengan mudah merasakan lezatnya makanan favorit kita. Terus, bagaimana memastikan kebahagiaan batiniah? Batin adalah segala hal yang berkaitan dengan perasaan atau apa yang ada di dalam “hati”. Oleh karenanya, memastikan kebahagiaan batin memerlukan pengkondisian timbulnya kesenangan dan ketentraman hidup.
Kesederhanaan, kesediaan menerima kritik, keramahan, kejujuran, dan nilai-nilai bijak lainnya adalah instrumen yang akan mengkondisikan batin untuk mudah memperoleh kebahagiaan. Nilai-nilai bijak diatas tidak hadir sebagai ketentuan Tuhan tapi ditentukan oleh kita sendiri, seberapa sederhana kita, seberapa terbuka, dan seberapa ramah kita akan menentukan seberapa mudah memperoleh kebahagiaan.
“Saya sudah ramah dan sabar, tapi tetangga maunya marah-marah dan memusuhi saya terus…saya jadi sebel dan pengin ngelabrak dia!”. Kesabaran dan keramahan dan nilai bijak lainnya disemai bukan untuk memperoleh pamrih, tapi memudahkan batin merasakan kebahagiaan. Makin kuat dan makin banyak kita memegang nilai bijak maka makin mudah kita memperoleh kebahagiaan. Segelas air dan semangkuk kolak berbuka puasapun bisa menjadi kebahagiaan kecil kita dan pelajaran menciptakan kebahagiaan kecil lain.